Selasa, 10 April 2012

Dampak Harga Kenaikan BBM Terhadap Berbagai Sektor Ekonomi


Dampak Harga Kenaikan BBM
Terhadap Berbagai Sektor Ekonomi

Kenaikan harga bahan bakar minyak pada 1 April 2012 diperkirakan akan mempengaruhi berbagai sektor ekonomi masyarakat. Mulai dari sektor pariwisata, harga obat bahkan sampai ke sembilan bahan pokok (sembako).

NERACA

Kenaikan harga BBM  mulai 1 April dinilai akan mempengaruhi sektor pariwisata dalam negeri. Kenaikan bisa mengurangi kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.  
“Kenaikan BBM pasti berdampak terhadap pariwisata,” kata Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Matta Fair, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu,  18 Maret 2012.
Menurut Sapta, jika harga BBM naik, hukum ekonomi akan berlaku. Permintaan dan persediaan akan terpengaruh. Agen perjalanan akan menaikkan biaya paket  tur. Kenaikan biaya pasti membuat perjalanan terlihat mahal.  
Untuk itu, menurut Sapta, kementerian dan pihak terkait harus mencari cara agar dapat mempertahankan atau menarik warga asing untuk datang.  ”Kami harus memodifikasi supaya paket-paket liburan misalnya bisa tetap diminati. Jadi harus cari jalan untuk bertahan,” katanya.
Rencana kenaikan BBM ini, kata dia, memang tidak bisa dihindari lagi. Saat ini yang bisa dilakukan adalah mencari solusi agar dapat mencapai target optimis datangnya wisatawan asing ke Indonesia pada tahun ini, yaitu 8 juta orang. “Yaitu dengan melihat komponen biaya dan efektivitas biaya tersebut,” ujarnya.
Dia menyadari, kenaikan BBM dan ditambah kondisi perekonomian dunia yang sedang tak menentu, orang berpikir berkali-kali untuk mengeluarkan uang terlalu besar di Indonesia. Menurut data Kementerian Pariwisata, rata-rata setiap wisatawan asing dapat menghabiskan dana US$ 1.100 per kunjungan.
Dengan kenaikan BBM, setidaknya dapat menambah rata-rata pengeluaran wisatawan asing hingga 10 persen dibandingkan spending sebelumnya. “Mungkin ada reduksi, tetapi kami berharap orang yang datang bisa bertambah. Kalau bertambah, pengurangan pendapatan tadi bisa diimbangi dengan penambahan volume.”

Obat Naik 6%-9%

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akhirnya menetapkan kenaikan harga obat sebesar 6%–9%. Kenaikan ini diputuskan terkait rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, kenaikan harga obat ini ditetapkan berdasarkan rekomendasi tim evaluasi harga obat. Tahun 2012 ini, paparnya, harga eceran tertinggi (HET) obat generik ditetapkan sejak 23 Februari 2012.
 “Penentuan HET ini sudah melalui bermacam-macam pertimbangan. Di antaranya kemungkinan pembatasan BBM bersubsidi, kenaikan bahan baku obat, kenaikan upah minimum regional (UMR), dan sebagainya,” ungkap Endang di Jakarta kemarin.
 Menurut Endang, tim evaluasi harga obat yang terdiri dari LSM, organisasi profesi, Kemenkes, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pakar ekonomi, pakar farmasi, dan pakar kesehatan telah mempertimbangkan dari 498 obat, ada kenaikan harga pada 170 jenis obat. Sedangkan harga pada 327 jenis obat, justru akan mengalami penurunan. Dia mengungkapkan, hanya 34% dari seluruh jenis obat yang akan mengalami kenaikan harga.
Dari 170 jenis obat yang HET-nya naik, 28 item di antaranya adalah sediaan injeksi dengan rata-rata kenaikan per item sebesar Rp343.“Di samping itu, sebanyak 123 jenis tablet dan kapsul naik rata-rata Rp31. Lalu sebanyak delapan item sirup juga rata-rata naik sebesar Rp30, dan tiga macam salep dengan rata-rata kenaikan Rp221. Dengan demikian, kenaikan harga obat tersebut berkisar 6–9 persen,” ungkapnya. Endang mengutarakan, kenaikan harga obat berbeda dengan kenaikan harga bahan pokok lainnya di pasar, sebab untuk harga obat ada pengaturannya oleh pemerintah. Selain itu, bagi para penduduk yang dijamin oleh Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) atau Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), sebetulnya kenaikan ini tidak akan mempengaruhi mereka karena sudah di-cover. Dia menjelaskan, HET obat sebenarnya ditetapkan setiap tahun. Ada beberapa obat yang sudah berproduksi saat ini masih memakai harga lama. Meski demikian, menurut dia, untuk pijakan tahun depan, akan mempertimbangkan kembali hal itu. Biasanya, ujarnya, yang akan mengusulkan penyesuaian harga obat adalah farmasi.“Karena pada umumnya produsen tidak memproduksi satu macam saja, maka bisa subsidi silang. Contohnya, ada harga obat yang sekarang naik tapi sebenarnya jenis tersebut belum naik dalam 2–3 tahun. Jadi, produsen bisa mengaturnya di situ,” tuturnya.
Endang menyatakan, Kemenkes telah memberikan HET dari setiap obat generik. Ini dilakukan untuk mengontrol agar tidak ada kecurangan di lapangan ketika pemerintah menetapkan HET. Permasalahannya, ujar Endang, ada obat-obat di luar jenis obat generik yakni obat-obat bermerek yang hingga saat ini masih sukar diatur.

Obat Terjangkau

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menjamin, perusahaan produsen obat milik BUMN tidak akan menaikkan harga obat. Justru pihaknya memberi instruksi khusus kepada perusahaan obat BUMN untuk memproduksi obat yang terjangkau. Dahlan mengungkapkan, tidak serta-merta kenaikan BBM itu bisa mempengaruhi harga obat.
“Tidak harus begitu.Sepanjang produsen obat itu milik BUMN, kita minta untuk tidak menaikkan dulu sampai kemampuan masyarakat menjadi seimbang lagi,” ungkap Dahlan.
Bank Indonesia (BI) optimistis dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi terhadap kenaikan inflasi hanya beberapa bulan saja. Setelah itu, angka inflasi akan lebih dipengaruhi banyak faktor.“Hitungan kita itu 4,4%  (inflasi) kalau enggak ada apa-apa. Kalau ada ya 6,8-7,1 persen. Sebenarnya kalau inflasi kita secara di luar yang diatur harganya (administered price) itu rendah,” ungkap Gubernur BI Darmin Nasution ditemui usai Rapat Kerja dengan Komisi XI, Senayan, Jakarta, Kamis (8/3/2012).Menurutnya, berdasarkan pengalaman masa lalu keputusan menaikkan harga BBM bersubsidi, pengaruhnya hanya beberapa bulan. “Setelah itu reda,” tambahnya.Darmin menambahkan, inflasi akibat kenaikan harga BBM bersubsidi hanya tinggi beberapa bulan. Setelah itu, inflasi kembali akan terjaga sehingga Bank Sentral optimistis, inflasi tahunan akan berada di 6,8-7,1 persen. “Harus kita perhatikan betul adalah jangan sampai kenaikan harga BBM lampaui kenaikan inflasi seharusnya karena spekulasi,” lanjut dia.Melihat alasan inilah, BI, memutuskan untuk menahan BI rate di angka 5,75% bulan ini. Adapun dampak ke lending rate (suku bunga kredit bank). Menurutnya, akan disebabkan beberapa faktor di mana BI bisa ikut campur lewat operasi di pasar sekunder.
“Mungkin akan berdampak ke deposit rate juga, tetapi kita akan terus koordinasikan bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan akan kita lihat respons pasar,” tandasnya.

Gelar Survei

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok menggelar survei ke sejumlah pasar tradisional untuk memantau harga bahan pokok. Menjelang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), harga bahan pokok pun mulai merangkak naik.Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok Farah Mulyati mengatakan, dari hasil pantauan rata-rata harga bahan pokok naik Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram (kg). Farah memastikan bahwa sektor perdagangan seperti Usaha Kecil Menengah (UKM) akan terkena dampak kenaikan harga BBM, begitu pula industri kreatif.“Naiknya tidak terlalu banyak, paling Rp500 sampai Rp1.000, intinya kalau pedagang dan pelaku UKM bahan bakunya naik, pastinya ada dampaknya, kenaikan ongkos transportasi, daya beli masyarakat turun,” katanya  di Balaikota Depok, Selasa (20/3/2012).Farah menjelaskan pihaknya menunggu instruksi dari pemerintah pusat untuk mengelar operasi pasar. “Kita lihat situasinya, kalau OP dari pemerintah pusat, instruksi ke seluruh kabupaten kota, kalau tinggi sekali kenaikannya baru akan dilakukan,” jelasnya.
Kenaikan harga bahan pokok, lanjut Farah, umumnya bukan karena menjelang kenaikan harga BBM. Namun karena cuaca. “Cabai merah terkendala karena hujan, cuaca, sudah ada kenaikan di minyak goreng, berkisarnya Rp500-Rp1.000, beras Rp500, cabai, telur sudah stabil lagi, untuk pendampingan industri kami membantu untuk melakukan pameran,” tuturnya.
Di kesempatan yang sama, Kepala Seksi Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok Farah Mulyati mengatakan harga beras rata-rata naik dari Rp7.400 hingga Rp7.600, lalu gula dari Rp11.000 hingga Rp11.100 dan minyak goreng dari Rp11.000 sampai Rp11.200.“Cabai merah dari Rp20.700 sampai Rp23.000, lalu cabai keriting dari Rp20.400 hingga Rp22.400, tapi intinya kalau stok aman,” kata Reni.
Reni menjelaskan, kenaikan harga gula pasir disebabkan karena terhambatnya transportasi. Sementara kenaikan harga minyak goreng karena pengaruh kenaikan harga minyak mentah. “Kalau harga beras karena musim panen raya sudah selesai,” tandas Reni.
Sementara itu harga telur di tingkat pedagang eceran per kilogram kini sudah mencapai Rp28.000. Serta harga beras jenis IR 64 sudah berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram. (agus/dbs)















Top of Form







Dampak Kenaikan BBM
Terhadap Inflasi Minim

29 Maret, 2012 | Filed under: Ekonomi | Posted by: Redaksi
Jakarta ( Berita ) :  Kepala Ekonom untuk India, Indonesia dan Singapura Global Market Research Deutsche Bank Taimur Baig mengatakan bahwa dampak kenaikan harga BBM bersubsidi minim untuk inflasi. “Kenaikan harga BBM hanya berdampak minim terhadap inflasi, kami memperkirakan inflasi pada pertengahan 2012 ialah 6 persen dan pada akhir tahun adalah 7 persen,” kata Baig di Jakarta, Kamis [29/03] .
Hal tersebut disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih tinggi yaitu 6,5 persen, suku bunga yang rendah dan didukung pendapatan masyarakat yang cukup. “Berbeda dengan kenaikan harga BBM pada 2005 dan 2008 saat kebijakan moneter ketat, upah yang masih rendah dan pertumbuhan ekonomi yang belum baik, kenaikan harga saat ini masih dapat diterima oleh masyarakat,” jelas Baig.
Namun ia mengingatkan agar Bank Indonesia melakukan kebijakan makro yang berhati-hati agar memberikan sinyal yang baik kepada investor. “Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi seperti saat ini, BI harus dapat memberikan sinyal kepada investor agar tetap bertahan di Indonesia, khususnya bagaimana upaya untuk menekan volatilitas pasar valuta asing,” tambah Baig.Ia menilai bahwa upaya BI untuk menekan volatilitas valuta asing berbeda pada 2005 dan 2008 yaitu dengan memperketat kebijakan moneter dengan meningkatkan suku bunga; saat ini BI dapat menggunakan instrumen lain.“Dibanding menggunakan instrumen penaikan suku bunga, BI dapat memilih untuk menggunakan instrumen lain seperti dengan menciptakan wadah untuk menampung dolar yang lebih besar sehingga menekan kemungkinan volatilitas pasar valuta asing,” kata Baig.Cara tersebut diambil karena Baig menilai bahwa fungsi intermediasi perbankan di Indonesia yaitu dalam penyaluran kredit masih belum baik sehingga bila BI meningkatkan suku bunga maka akan menyulitkan penyaluran kredit. “Tapi harus diingat bahwa harga BBM di Indonesia masih yang paling rendah di Asia Tenggara, bahkan bila harga BBM benar-benar dinaikkan,” ungkap Baig.
Dengan kondisi tersebut, Baig memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan tumbuh pada kisaran 6 persen pada 2012 dan 7 persen pada 2013.
Indonesia juga dinilai masih menjadi tempat investasi yang menguntungkan bagi investor karena keunggulan di sisi demografi yaitu jumlah penduduk usia produktif yang besar, jumlah penduduk sebagai pasar yang potensial dan stabilitas politik.
“Dengan adanya stabilitas, investor dapat membuat perencanaan jangka menengah dan jangka panjang untuk dapat berinvestasi, misalnya dengan pembangunan perumahan dan perluasan perusahaan yang akhirnya meningkatkan pendapatan dan seterusnya mendorong konsumsi,” kata Baig.  ( ant )


BBM dan Dampak Makro

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia memiliki dampak pada stabilitas ekonomi makro. Alokasi subsidi BBM yang terus meningkat hingga lebih dari 100 triliun rupiah di tahun 2011 akibat kenaikan harga dunia telah memberatkan APBN, stabilitas makro dan menghambat momentum pertumbuhan. Karena status Indonesia sejak tahun 2004 sebagai negara net importir minyak, maka setiap ada kenaikan harga dunia juga akan meningkatkan defisit neraca perdagangan. Dalam 5 tahun terakhir stabilitas ekonomi makro Indonesia dua kali diuji dengan kenaikan harga minyak dunia. Setelah berhasil melewati masa krisis 2005 dan 2008, sekarang, kita juga sedang dalam ujian menghadapi kenaikan harga minyak dunia.
Pada tahun 2005, harga minyak dunia meroket dari 25 dolar per barel menjadi sekitar 60 dolar per barel dan beban subsidi BBM melonjak dari 21 triliun rupiah menjadi 120 triliun rupiah apabila harga BBM tidak dinaikkan.
Pada waktu itu, stabilitas ekonomi makro kita diuji, rupiah dan inflasi terpengaruh. Suku bunga terpaksa dinaikkan untuk menjaganya. Dan akibat kebijakan BBM setengah-setengah, maka terjadi ekspektasi negatif yang berlebihan. Akibatnya di tahun 2005 harga BBM harus naik dua kali, Maret dan Oktober. Meskipun memberatkan, dengan kenaikan harga BBM telah terjadi penghematan konsumsi BBM, terutama dari impor dan terjadinya konversi minyak tanah ke LPG. Rupiah kemudian stabil dan suku bunga mulai menurun.
Pada tahun 2008, harga BBM kembali dinaikkan dengan alasan yang kurang lebih sama. Kenaikan harga minyak dunia terjadi lagi dalam batas yang tidak wajar, hingga mencapai 140 dolar per barel. Subsidi bisa meledak hingga 200 triliun rupiah. Yang menjadi lebih rumit adalah pada saat yang sama terjadi gejolak di pasar keuangan. Pada bulan April 2008 harga saham jatuh cukup tajam, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah juga melonjak.
Kemudian terjadi ekspektasi inflasi dari ketidakpastian kondisi fiskal atau defisit APBN karena Pemerintah tak kunjung menaikkan harga BBM. Alokasi subsidi BBM meningkat. APBN mengalami ancaman defisit. Ekspektasi inflasi terjadi secara berlebihan, depresiasi rupiah juga terjadi dan kenaikan suku bunga tidak bisa dihindari. Pembiayaan defisit dari obligasi sulit dilakukan karena biayanya mahal.
Setelah lebih dari 6 bulan didiskusikan, akhirnya 1 Oktober 2008 Pemerintah menaikkan harga BBM. Tetapi karena terlambat mengambil keputusan, penaikkan harga BBM menjadi sangat tinggi, yakni 80% untuk menutup defisit APBN. Dengan kenaikan harga BBM tersebut, APBN aman, rupiah kembali menguat dan setelah dua bulan inflasi mulai dapat dikendalikan. Laju pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan dalam 2 semester karena kenaikan harga BBM yang sangat tinggi. Yang paling penting adalah angka kemiskinan tetap dapat diturunkan karena pelaksanaan dari program kompensasi yang nyata melalui BLT (Bantuan Langsung Tunai).

Biaya Keterlambatan

Tahun 2012 ini Pemerintah kembali dihadapkan pada kenaikan harga minyak dunia. Meskipun kenaikan tersebut dipicu karena ketegangan politik sesaat di Timur Tengah namun tidak ada seorangpun yang berani memprediksikan berapa lama akan berlangsung.

Banyak yang telah menyarankan bahwa sebenarnya tahun 2011 Pemerintah sudah harus mulai menaikkan harga BBM, khususnya premium secara bertahap dan tidak memberatkan. Studi UI, UGM dan ITB (2011) menyarankan kenaikan bertahap sejak 2011. Dengan kenaikan bertahap tersebut dampaknya tidak terasa.  Kalaupun ada kelompok yang harus dilindungi, maka dilakuakn dengan selektif, misalnya transportasi publik dan sektor UMKM dan nelayan. Namun Pemerintah waktu itu mentabukan kenaikan harga BBM. Sekarang sudah berubah pikiran dan ini adalah perkembangan positif. 
Yang menggembirakan adalah pada tahun 2012 ini kemampuan Bank Indonesia dan pemerintah mengelola kondisi makro, gejolak pasar keuangan cukup baik. Bahkan dapat dibilang bahwa kondisi makro kita lagi bagus-bagusnya untuk menghadapi gejolak harga minyak dunia. Sampai hari ini ekspektasi inflasi masih wajar, kondisi fiskal sehat, pasar modal dan obligasi meningkat, cadangan devisa mencukupi dan rupiah stabil. Jadi ini yang membedakan dengan kondisi tahun 2005 dan 2008. 
Jadi jika dilakukan dengan cepat dan benar, kenaikan harga BBM kali cukup sebesar 1000 rupiah dan maksimum 1500 rupiah per liter.  Tidak perlu dilakukan kompensasi melalui BLT karena kenaikan BBM tidak menyangkut minyak tanah yang waktu itu dikonsumsi oleh kelompok menengah kebawah. 
Kenaikan harga BBM sebesar 1000 rupiah sudah memadai untuk menghemat APBN sekitar 10 triliun rupiah  dengan dampak inflasi dalam batas wajar. Kedua, terhadap penghematan tersebut, melalui APBN perubahan dapat diinvestasikan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur BBG dan memberikan insentif pembuatan pompa-pompa gas di seluruh wilayah Indonesia dan converter kit di dalam negeri sendiri. Disamping itu, prioritas kedua adalah memberikan perlindungan kepada UMKM, termasuk nelayan dan transportasi umum, melalui sebuah skema kompensasi yang wajar.
Kenaikan harga BBM tidak hanya akan menghemat anggaran dan devisa juga akan mengurangi konsumsi BBM. Banyak studi yang menyatakan bahwa kenaikan harga BBM 1% akan menurunkan konsumsi BBM lebih dari 1% atau bersifat elastis. Kenaikan harga BBM juga akan memberi insentif bagi pengembangan BBG (bahan bakar gas). Konsumen akan mencari alternatif bahan bakar yang lebih murah, aman dan ramah lingkungan, tidak perlu diatur dan dibatasi. Pengembangan BBG sejak 5 tahun yang lalu tidak mengalami kemajuan berarti karena Pemerintah memberikan subsidi premium secara berlebihan dan harga BBG non-subsidi tidak bisa bersaing. Jadi dari sisi mikro, kenaikan BBM juga positif memberikan kesempatan pengembagan alternatif bagi BBG.
Dari sisi makro, dengan mempelajari pengalaman tahun 2005 dan 2008 maka yang paling penting adalah adanya kepastian kenaikan harga BBM segera. Setiap keterlambatan keputusan harga BBM akan menimbulkan beban anggaran  dan devisa yang berlebihan sehingga merugikan kondisi makro. Disinilah pemerintah harus arif dan berwawasan luas untuk melihat permasalahannya. Kalau jernih melihatnya dan terencana dengan baik maka masalah politik dan sosial akan dapat ditanggulangi.



Kenaikan BBM Bakal Turunkan Pertumbuhan Industri 0,26%

Rabu, 7 Maret 2012 16:53 wib
 0  11 Email0
Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 33 persen dan tarif dasar listrik (TDL) 10 persen akan menyebabkan output sektor industri pengolahan nonmigas mengalami penurunan sekira 0,26 persen.Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Kemenperin Dedi Mulyadi mengatakan, untuk menemukan seberapa besar dampak kenaikan harga BBM dan TDL terhadap kinerja industri, pihaknya menggunakan metode computable general equilibrium (CGE).Adapun model CGE yang digunakan, kata dia, adalah comparative static.
CGE, lanjutnya, juga digunakan untuk mengkaji seberapa besar dampak kenaikan harga BBM dan TDL terhadap kinerja ekonomi makro Indonesia.
Dia menyebutkan, dalam kajian tersebut dilakukan lima simulasi kebijakan yakni kenaikan harga BBM khususnya premium sebesar Rp1.500 atau 33 persen dari harga awal Rp4.500 menjadi Rp6.000, kenaikan harga BBM khususnya premium sebesar Rp2.000 atau 44 persen dari harga awal Rp4.500 menjadi Rp6.500, kenaikan TDL sebesar 10 persen, kombinasi kenaikan harga BBM sebesar 33 persen dan TDL 10 persen, serta kombinasi kenaikan harga BBM sebesar 44 persen dengan TDL 10 persen."CGE adalah analisa yang dasarnya adalah Tabel Input-Output (IO) dari 2008 yang di-update dari 2005. Dari asumsi ini, hasilnya apabila harga BBM nasik 33 persen maka industri akan turun 0,12 persen. Apabila harga BBM naik 44 persen, industri akan turun 0,14 persen. Dan TDL naik 10 persen maka industri akan turun 0,14 persen," kata Dedi di Jakarta, Rabu (7/3/2012).Kajian tersebut, kata dia, dilakukan pada sembilan sektor industri yakni makanan, minuman dan tembakau, tekstil, barang kulit dan alas kaki, barang kayu dan hasil hutan lainnya, kertas dan barang cetakan, pupuk, kimia dan barang dari karet, semen dan barang galian bukan logam, logam dasar besi dan baja, alat angkut, mesin dan peralatannya,serta barang lainnya.Dari sembilan sektor tersebut, lanjutnya, makanan, minuman dan tembakau tetap bertumbuh positif yakni 0,13 persen apabila harga BBM naik 33 persen dan 0,14 persen apabila TDL naik 10 persen."Sektor makanan tidak terpengaruh. Ini sektor yang tidak rentan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi," ucapnya.Pasalnya, menurutnya, sektor tersebut mampu menguasai pasar dalam negeri, bahan bakunya terdapat di dalam negeri, serta  memiliki peranan cukup tinggi terhadap pertumbuhan industri nasional dengan share sebesar 35,20 persen."Industri makanan pasarnya domestik, bahan baku ada di dalam negeri. Ini satu kondisi yang cukup menggembirakan. Industri ini yang di mana peranannya tinggi sekali 33 persen terhadap struktur industri. Yang tersirat dari angka pertumbuhan bahwa dia tidak rentan," paparnya. (Sandra Karina/Koran SI/ade)
Negosiasi Minta Kenaikan Gaji Saat Harga BBM Naik
Harga BBM (dipastikan) naik. Jangan buang energi percuma mendemo atau mendiskusikannya.Segera bersikap. Jika Anda karyawan perusahaan, bersegeralah meminta kenaikan gaji. Tentu, bukan dengan dengan membawa pistol atau badik lalu mengancam pimpinan. Sama saja, Anda menulis permohonan pengunduran diri dengan tidak hormat. Bernegosiasilah dengan cerdas dan persuasif. Agar lebih efektif, pakailah aji pengasih yang banyak dijual di super market terdekat atau melalui belanja online. Berikut contoh negosiasi meminta kenaikan gaji.Karyawan : Maaf, Pak. Berkenankah Bapak memberi waktu kepada saya untuk membicarakan hal penting?(badan dibungkuk-bungkukkan, wajah memelas, suara menghiba. disarankan sebelumnya berpuasa 2 x 24 jam agar tampang lebih meyakinkan)
Bos : Boleh. Silakan duduk. Ada perlu apa?
Karyawan : Ini begini, Pak. Saya ‘kan sudah lumayan lama bekerja di perusahaan Bapak. Sudah 10 tahunan.
Bos : Iya.
Karyawan : Sebelumnya saya mohon maaf. Supaya tidak berpanjang lebar, saya ingin langsung mengutarakan maksud saya menghadap Bapak.
Bos :  O ya. Silakan.
Karyawan : Sebenarnya saya ingin meminta kenaikan gaji, Pak. Sekali lagi, maaf. Soalnya, beberapa perusahaan besar sudah menghubungi saya. Ada juga BUMN. Perusahaan-perusahaan itu mencari-cari saya. Tapi, bagaimanapun, Bapak adalah pimpinan saya. Jadi, saya putuskan membicarakannya dengan Bapak lebih dulu.
Bos : Naik gaji? Maunya, sih, iya. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat.
Karyawan : Saya maklum dengan kondisi ekonomi makro saat ini. Saya juga sangat paham kondisi perusahaan saat ini. Tapi, tolong pertimbangkan pula kerja keras saya selama ini, loyalitas dan prestasi saya. Tolong pertimbangkan pula dampak kenaikan BBM bagi ekonomi keluarga saya.
Bos : Hmmmm. (mikir dulu ….. )Saya tidak ingin berdebat atau membahas ini berlarut-larut. Saya akan berikan kenaikan 10% gaji dan 5 hari tambahan cuti. Saya kira ini sudah sangat layak bagi Bapak. Bagaimana?
Karyawan : Syukurlah, Pak. Terima kasih banyak.Kalau begitu, saya pamit dulu.
Bos : Omong-omong, sekadar ingin tau aja, perusahaan mana saja yang sudah menghubungi Bapak?
Karyawan : Ooooh itu. Banyak, Pak. Misalnya PLN, TELKOM, Bank BNI, BCA, dan beberapa lembaga pembiayaan.
Bos : Wah, hebat sekali. Posisi apa yang mereka tawarkan?
Karyawan : Bukan, Pak. Mereka menghubungi saya karena saya menunggak pembayaran rekening cicilan.

Sekilas Pendapat Tentang Dampak Kenaikan BBM

masyarakat dari berbagai elemen turun untuk demonstrasi perihal naiknya BBM dan menuntut turunya SBY-Boediyono (loh kok ?!), kritik kritik berlemparan saya melihat dan berkata “wow hebat sekali kritiknya”, tetapi kembali saya penasaran, apakah elemen elemen itu sudah mengkaji tentang kenaikan BBM itu  sendiri atau tidak ?.
Indonesia memliki harga BBM yang kecil dibanding negara berkembang lainya,, namun apa yang terjadi kita hanya melihat ini dalam kacamata apriori terhadap setiap kebijakan, apakah kita masih berharap dengan jumlah masa dapat menjatuhkan suatu kebijakan pemerintah ? lalu sampai kapan kita ini berpikir anarkis kawan, ini menurut saatnya mahasiswa kembali ke fitrahnya sebagai kaum intelektual, mari kita cari jalan keluar yang seharusnya, kita tempuh, mulailah melempar kritik konstruktif bukan kritik yang seharga keripik. dan sudah bukan jamanya mahasiswa menjawab segala pertanyaan hanya dengan alasan normatif yaitu “kasihan rakyat kecil”. perlu diingat pada momen seperti ini, saya yakin orang yang mengaku sebagai “rakyat kecil” tersebut akan bertambah drastis jumlahnya.
banyak kawanpun berteriak bahwa kita termasuk negara penghasil minyak, menurut saya kitapun tidak bisa lagi disebut negara penghasil minyak, mungkin pada tahun 1969 saat ketika produksi minyak kita 1,6 juta barrel per hari dan pemakaian dalam negeri 1 juta barrel perhari , dan masih tergabung dengan OPEC. namun realita yang terjadi dimasyarakat ini adalah banyak bertambahnya penggunaan BBM yang besar pasak daripada tiang, yang berakhir pada tahun 2003 akhirnya indonesia bukan lagi menjadi negara Eksportir Minyak dan berubah status menjadi Nett Oil Importir. kalau saja indonesia dapat menaikan lifting oilnya menjadi beberapa juta barrel per hari, niscaya indonesia dapat kembali menjadi anggota opec, tapi kita juga tidak dapat melihat dari sisi ini saja, karena kemungkinan besar pasokan minyak di indonesia dapat habis dalam hitungan puluhan atau belasan tahun.
Produksi minyak Indonesia saat ini sebanyak 329 juta barel, 132 juta barel di antaranya diekspor. Pada tahun 2011 Indonesia mengimpor minyak mentah sebanyak 99 juta barel dan BBM 182 juta barel. Sementara itu, konsumsi BBM masyarakat Indonesia mencapai 479 juta barel. seharus kita bisa lebih berkembang dengan cadangan gas yang ditaksir 5 kali lipat lebih banyak dan juga batu bara yang ditaksir 10 kali lipat lebih banyak. sebagaimana yang telah dilakukan dinegeri paman sam bahwa Indonesia memiliki kesempatan besar untuk berkembang pada bidang gas dan batu bara. namun kebiasaan untuk lebih terfokus kepada sesuatu hal yang membuat misfokus terhadap yang lain inilah yang membuat kesempatan kesempatan negara ini diambil alih oleh negara lain.
Sebagai rakyat indonesia, saya haya mencoba mengajak kawan kawan berpikir bukan hanya mudaratnya tetapi juga manfaatnya daripada kenaikan BBM ini, yang dipermasalahkan seharusnya antisipasi terhadap dampak apa yang terjadi ketika naik baik itu trhadap ekonomi makro maupun ekonomi mikro, dan solusi apa untuk mengurangi dampak kekacauan yang dalam artian masih mungkin terjadi. dengan naiknya BBM maka Anggaran untuk pemerintah jelas akan bertambah, mengapa kita tidak berpikir panjang, dan merancang dari awal untuk sebuah pergerakan yang lebih bersifat elegan untuk membicarakan tentang rencana penggunaan keuntungan dana pemerintah yang akan jauh meningkat setelah BBM naik ?, jadi kawan kawan bagaimana menurut kalian ? akan dikemanakan dana lebih itu ?,mari kita berpikir jauh kedepan mari kita bantu kawal NKRI. dan penulis memohon maaf apabila ada kesalah data ataupun ada kata yang kurang berkenan, silakan untuk diberi arahan untuk lebih baik.
Kenaikan BBM, Pemerintah Akan Beri Insentif Pada Kendaraan Umum
Jakarta,TANGGAP NEWS.COM-Seiring dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pemerintah akan memberi insentif kepada kendaraan umum, agar imbas dari kenaikan BBM tidak berdampak pada tarif angkutan lebih tinggi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menilai langkah Organda menaikkan tarif angkutan umum mencapai 35 persen apabila terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dipandang hal yang wajar. Namun, ia mengatakan kenaikan tarif angkutan umum sebesar 35 persen terbilang cukup tinggi. Setidaknya kenaikan tarif angkutan umum berada pada kisaran 10 persen sampai 25 persen.
“Menurut saya itu terlalu tinggi, tadi saya juga mengatakan 35 persen itu mungkin akan menurunkan minat orang bisa beralih kepada sepeda motor atau yang lain oleh sebab itu ditekan kebawah,” ujarnya dikantor Kementerian Perekonomian, Jakarta, belum lama ini.
Menko Perekonomian mengaku menyadari dengan adanya kenaikan BBM, tentunya dengan tarif angkutan umum seperti saat ini tidak mencukupi. “Disitulah diperlukan insentif, jadi harga diturunkan kebawah tapi insentif diberikan. Jadi masyarakat tidak diberatkan,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia mengatakan intensif yang diberikan pemerintah bisa seperti peremajaan angkutan umum yang usianya sudah tua-tua, pemberian insentif pembebasan terhadap KIR (pemeriksaan alat pengamanan kendaraan), perpanjangan STNK, dan pemberian spare part, dan ban.
Sementara Sekjen DPP Organda Andriansyah memperkirakan akan terjadi kenaikan tarif angkutan umum sebesar 33 persen hingga 35 persen apabila kenaikan harga BBM terjadi pada 1 April 2012 mendatang.

Dia menjelaskan bahwa kenaikan BBM ini memberikan kontribusi terhadap biaya operasional sebesar 45 persen. Selain itu dengan kenaikan 30 persen terhadap BBM maka otomatis direct beban yang diterima oleh para operator itu sudah melebihi angka 15 persen ditambah dengan posisi kenaikan tarif pada 2011 yang seharusnya bisa terjadi yaitu sebesar 18,36 persen.Karenanya guna menekan kenaikan tarif angkutan umum akibat kenaikan harga BBM Dewan Pimpinan Pusat Organda meminta insentif kepada pemerintah sekira Rp 8,7 triliun.
“Jadi sampai saat ini kami masih menunggu bagaimana keputusan pemerintah tentang kepastian insentif dan juga besaran insentif yang disalurkan ke sektor transportasi. Sehingga nanti kami bisa menghitung mengusulkan berapa kenaikan tarif yang bisa kita sampaikan atau berlakukan,” ujarnya.Menurutnya, karena insentif ini akan sangat berpengaruh terhadap tarif angkutan umum yang nanti akan dilakukan penyesuaian.
Oleh karena, sambung dia, saat ini Organda masih berkoordinasi agar nanti tarif angkutan umum yang disesuaikan dapat menutup pengaruh kenaikan BBM dengan demikian dapat mengurangi potensi gejolak.

Kenaikan Harga BBM

PEMERINTAH kembali akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu dekat ini. Konon, kondisi Timur Tengah yang kian memanas merupakan salah satu penyebab harga minyak dunia terus melambung tinggi mencapai 100 dolar AS per barelnya. Selama ini pemerintah memberikan subsidi untuk menanggung naiknya harga BBM dunia, sehingga harga yang dinikmati masyarakat tidak berpengaruh dengan kenaikan harga minyak dunia.

Berdasarkan laporan Menteri Keuangan RI bahwa setiap tahun terjadi pembengkakan subsidi sekitar Rp 50 triliun hingga 70 triliun dari alokasi yang ditetapkan. Tahun 2011 lalu, misalnya, subsidi BBM mencapai Rp 165 triliun. Sementara tahun 2010 sekitar Rp 129,7 triliun, pada tahun 2012 pemerintah akan mengurangi subsidi menjadi sebesar Rp 123 triliun dari APBN-P.

Hal ini dilakukan untuk menghemat anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN). Dalam hitungan Menteri Keuangan, dengan kenaikan BBM sebesar Rp 1.000 per liter, penghematan subsidi sebesar RP 38 Triliun, sedangkkan jika kenaikan Rp 1.500 maka pemerintah bisa menghemat Rp 54 triliun (Tempo.com).

Ditinjau dari aspek makro ekonomi, kenaikan BBM akan memberikan dampak terhadap naiknya biaya produksi barang dan jasa yang menggunakan BBM, seperti home industry, industri manufaktur, perusahaan jasa transfortasi. Kenaikan biaya produksi, akan mangakibatkan kenaikan harga barang dan jasa. Kenaikan harga barang yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi, akan berakibat kepada cost pust inflation (inflasi yang disebabkan oleh biaya produksi). Dalam kajian makro, inflasi ringan akan memancing pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika inflasi itu diakibatkan oleh kenaikan biaya produksi, maka kenaikan harga ini akan berakibat terhadap penurunan output nasional (barang dan jasa yang dihasilkan nasional) atau penurunan pertumbuhan nasional.

Menyumbang kemiskinan

Jika terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi, maka efek dari kenaikan BBM ini akan menyumbang kemiskinan dan terciptanya penggangguran. Sebab, banyak perusahaan akan melepaskan sebagian tenaga kerjanya untuk tetap mempertahankan keuntungan mereka yang maksimal. Efek lain jika kenaikan BBM sementara pendapatan masyarakat tidak meningkat, maka akibatnya adalah turunnya daya beli masyarakat. Jika ini yang terjadi maka akan terjadi kelesuan ekonomi.
Selain itu, jika penghematan anggaran APBN melalui pengurangan subsidi BBM, maka pemerintah bisa meningkatkan pembiayaan pengeluaran lainnya, untuk tujuan pembanguunan. Peningkatan pengeluaran pemerintah atau kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah dari sisi pengeluaran, khususnya pengeluaran untuk pembangunan, akan mampu memicu pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebagai contoh, misalnya, dana dari subsidi digunakan untuk penggunaan pembangunan dan perbaikan irigasi pengairan sawah di seluruh Indonesia, maka tentu secara tidak langsung produksi padi Nasional akan meningkat. Efek dari itu adalah pendapatan masyarakat akan meningkat, pembayaran pajak juga akan meningkat, dan pendapatan Nasional juga meningkat.
Jadi dengan penghematan APBN dilakukan pemerintah dan dialokasikan ke kebijakan fiskal yang lebih besar, maka aka ada pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat kecil, dan menurunnya angka kemiskinan.
Oleh karena itu perlu pengkajian lebih dalam secara makro ekonomi dengan melihat seberapa besar pengaruh kenaikan BBM terhadap inflasi yang disebabkan oleh cost pust inflation dan penghematan yang bisa dialokasikan untuk tujuan pembangunan.

Memberikan keringanan bagi masyarakat miskin agar mampu membeli BBM, tentu ini tidak tepat sasaran. Secara realita malah terbalik dari anggapan ini, jika kita melihat, masyarakat yang sangat miskin hanya menggunakan BBM maksimal 2 liter/hari, sementara masyarakat kalangan atas ada yang hitungan per barel/hari.
Pertanyaannya, berapa besar subsidi BBM yang dinikmati oleh masyarakat kecil dan seberapa besar pula BBM yang dinikmati oleh orang kaya?
Di sisi lain, efek dari subsidi BBM telah terjadi penyuludupan, karena selisih harga antara Negara Indonesia dengan Negara tetangga, sehingga para mafia ini menikmati hampir triliunan dari subsidi BBM ini. Akibatnya, sasaran subsidi untuk masyarakat kecil malah tidak tercapai.

 Perlu dilakukan

Kesimpulannya adalah jika pemerintah menaikkan BBM untuk penghematan APBN-P dilihat dari keefektifan penggunaan anggaran maka sangat perlu dilakukan, untuk mengatasi krisis belanja Negara. Kita merupakan Negara miskin yang masih perlu pembangunan berbagai sektor ekonomi, mulai dari pertanian, infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Seharusnya kita melakukan penghematan untuk tujuan pembangunan. Tanpa ada pembangunan dari berbagai sektor, maka pengangguran terus meningkat, juga meningkat kemiskinan yang akhirnya kita menjadi Negara selamanya tertinggal dan terbelakang karena prilaku masyarakatnya yang tidak siap dalam pembangunan ekonomi.
Selama ini masyarakat dikembangkan dengan isu cost pust inflation atau inflasi yang disebabkan oleh biaya produksi, tanpa mengkaji lebih dalam dari efek subsidi BBM. Melalui tulisan ini maka perlu memahami lebih dalam dari efek kenaikan harga tersebut.
Perbedaan pendapat memang kadang kala perlu, tetapi setiap kebijakan nasional tentu ada efeknya terhadap pembangunan. Kita sama-sama harus berpikir rasional dengan kenaikan harga BBM. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi masyarakat dalam memahami isu kenaikan BBM tersebut




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar